Pelukis Helena Muljanto hadirkan Jinga Wildrose dalam pameran lukisan
Pelukis Helena Muljanto (kedua dari kiri) bersama dengan para pelukis lainnya pada pembukaan pameran lukisan “Revitalisasi Keraton Nusantara” yang diselenggarakan di ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada 24 hingga 28 April 2026.
Jakarta (ANTARA) - Pelukis Helena Muljanto menghadirkan lukisannya yang berjudul Jinga Wildrose dalam pameran lukisan “Revitalisasi Keraton Nusantara” yang diselenggarakan di ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada 24 hingga 28 April 2026.
Lukisan tersebut menghadirkan sosok simbolik bernama Jinga Wildrose, yang berdiri dalam pose yoga, tenang, seimbang, dan penuh kesadaran.
Di belakangnya menjulang Keraton Yogyakarta, simbol peradaban keraton Nusantara yang terus bertahan di antara arus perubahan zaman.
Busana bermotif Kawung yang dikenakannya bukan sekadar estetika. Dalam filosofi Jawa, Kawung melambangkan keseimbangan, harmoni, dan keadilan.
Namun makna lukisan ini menemukan pusatnya pada satu elemen: sebuah neraca di tangannya. Di satu sisi terdapat simbol laki-laki.
Di sisi lain simbol perempuan dan keduanya berada dalam posisi setara.
"Di tangannya, ia menyeimbangkan neraca antara hak laki-laki dan perempuan, yang mana kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan atau gender, melainkan oleh kapasitas, integritas, dan profesionalitas,” kata Helena di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Melalui Jinga Wildrose, Helena Muljanto tidak sedang menawarkan solusi. Ia justru mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah kepemimpinan masih ditentukan oleh garis keturunan? Apakah takhta masih soal siapa yang dilahirkan? Atau sudah saatnya ditentukan oleh kualitas manusia itu sendiri?
Dia menjelaskan dalam konteks keraton Nusantara, yang sarat tradisi dan struktur turun-temurun, pertanyaan ini menjadi semakin relevan sekaligus kompleks.
Pameran tersebut dibuka oleh Teuku Riefky Harsya yang menegaskan bahwa budaya tidak boleh berhenti sebagai warisan statis namun budaya harus bergerak, beradaptasi dan memiliki nilai ekonomi.
Ia juga menyoroti storytelling sebagai kekuatan baru ekonomi kreatif—bahkan menyebutnya sebagai “tambang baru” yang tidak akan habis.
Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, keraton Nusantara memiliki potensi besar untuk diolah menjadi karya lintas sektor: dari film, animasi, hingga seni rupa.
Pameran yang diselenggarakan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) dan para pelukis itu menampilkan sebanyak 44 lukisan yang ditampilkan di kawasan cagar budaya yang berada di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat itu.***










